Jumat, 24 Februari 2017

TINGKATAN-TINGKATAN SURGA ITU TAK TERHINGGA!

Sebuah pembahasan yang akan sangat menggugah kita untuk berlomba-lomba dalam kebaikan! :)

-------------------------------------------------
"Celaka engkau. Apakah surga itu hanya satu? Sesungguhnya surga itu jumlahnya AMAT BANYAK ...." (H.R. Bukhari)

Surga itu terdiri atas banyak tingkatan dan masing-masing tingkatannya berada di atas tingkatan lainnya. Jarak antar tingkatan sejauh jarak antara langit dan bumi.

*Imam Zuhri ra.: “Penggambaran semacam itu hanyalah sebuah perumpamaan agar dapat dipahami oleh kemampuan akal manusia yang sangat terbatas itu”. M. Quraish Shihab dalam Tafsir Al Mishbah: “Dalam benak manusia, tidak ada sesuatu yang dapat menggambarkan keluasan melebihi luasnya langit dan bumi, maka untuk menggambarkan betapa luasnya surga, maka Allah memilih kata-kata selebar langit dan bumi” (lihat Q.S. 3: 133 dan 57:21). Apalagi pada masa ketika firman ini turun, pengetahuan tentang alam semesta dan benda-benda angkasa masih sangat minim dan menuai banyak kesalahan. Maka selebar langit dan bumi adalah gambaran paling mungkin walaupun waktu itu luas langit dan bumi pun belum dapat dicapai oleh akal dan pengetahuan.

Rasulullah telah menjelaskan tentang jauhnya jarak antara satu tingkatan dan yang lainnya, di dalam sebuah hadits shahih disebutkan bahwa para penghuni surga itu melihat orang-orang yang lebih tinggi tingkatannya dari mereka laksana bintang yang pergi menjauh di langit.

“Sesungguhnya, orang-orang di surga akan melihat orang-orang yang di atas tingkat mereka, bagaikan melihat BINTANG DI LANGIT yang tinggi.” (H.R. Bukhari, Muslim, hadits semisal juga diriwayatkan oleh Ahmad, Tirmidzi)

“Sesungguhnya penghuni surga benar-benar akan meihat para penghuni kamar yang berada di atas mereka sebagaimana kalian melihat bintang-bintang kejora yang bercahaya yang berada di UFUK TIMUR ATAU BARAT karena perbedaan keutamaan mereka.” (H.R. Ahmad, Bukhari, Muslim, Tirmidzi, Ibnu Hibban, Thabrani)
“Sesungguhnya, surga itu mempunyai SERATUS TINGKATAN yang Allah sediakan bagi orang-orang yang berjihad di jalan Allah. Jarak antara satu tingkatan kepada tingkatan lainnya sama seperti jarak antara LANGIT DAN BUMI.” (H.R. Bukhari dalam Shahih-nya)

“Di dalam surga itu terdapat SERATUS TINGKATAN, yang seandainya seluruh alam semesta ini berkumpul di salah satu darinya, sungguh ia akan dapat menampung mereka semua.” (H.R. Ahmad dalam Musnad-nya)

“Lemparkanlah (panahlah), wahai para pembuat senjata. Barang siapa yang bisa mengenai musuh dengan panahnya, niscaya Allah akan meninggikan derajatnya satu tingkat.” Ka’ab berkata, Maka Abdurrahman bin Abi Nahham berkata, “Wahai Rasulullah, derajat apa itu? “ Maka Rasulullah saw. bersabda, “YANG DIMAKSUD DERAJAT ITU bukanlah (seperti) tangga milik ibumu, tapi jarak antara DUA DERAJAT SEPERTI PERJALANAN 100 TAHUN.” (Hadits dari Abu Hurairah yang diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Nasa'i, Ibnu Hibban, 'shahih', hadits tentang jarak perjalanan 100 tahun juga diriwayatkan oleh Tirmidzi)

Dalam hadits yang lain juga disebutkan bahwa jarak antara satu tingkatan dengan yang lain seperti perjalanan 500 tahun, sebagaimana yang diriwayatkan oleh Abu Hurairah ra. Ia berkata, Rasulullah saw. bersabda:

“Di dalam surga itu ada 100 TINGKATAN, jarak antara dua tingkatan seperti perjalanan 500 tahun.” (H.R. Thabrani, 'shahih lighairihi')
*Perbedaan jaraknya bukanlah berarti hadits tersebut bertentangan, akan tetapi karena memang keadaan tingkatan surga itu berbeda-beda tergantung tingkat keutamaan/ketinggian derajatnya.
Ibnu Abbas telah menyebutkan, “Jumlah tingkatan surga itu SANGAT BANYAK. Bisa jadi ia sama dengan jumlah ayat Al-Quran, sebab telah disebutkan di dalam sebuah hadits:

“Dikatakan kepada shahibul Qur’an*, ‘Bacalah dan naiklah (ke tingkatan surga) serta tartilkanlah (bacaanmu) sebagaimana engkau mentartilkannya di dunia. Sesungguhnya kedudukanmu (di surga) adalah berdasarkan akhir ayat yang kamu baca’.” (Musnad Imam Ahmad. Hadits semisal juga diriwayatkan oleh At-Tirmidzi dan dia berkata, “hasan shahih”, selain itu, hadits dengan makna bahwa naik tingkatan tiap satu ayat juga diriwayatkan oleh Abu Dawud, Ibnu Majah, Ibnu Hibban, Baihaqi, dan Hakim.)

*Shahibul Qur’an adalah orang yang hafal Al-Quran dan mengamalkannya, dalam wacana lain, shahibul Qur'an adalah orang-orang yang konsisten dalam membaca dan mengamalkannya.

Oleh karenanya, ‘Aisyah mengatakan, “Jumlah tingkatan surga itu sesuai dengan jumlah ayat Al-Quran. Barang siapa yang masuk surga dari kalangan yang membaca Al-Quran, niscaya tidak ada seorangpun yang lebih tinggi darinya.” (H.R. Imam Ahmad, Baihaqi, Abi Syaibah, Baghowi, Hakim berkata: sanad 'shahih')

Ibnu Hajar mengomentari sabda Nabi, “seratus derajat,” ia berkata, Dalam konteks hadits ini, TIDAK ada penjelasan bahwa jumlah tersebut merupakan jumlah keseluruhan tingkatan surga. Sebab, tidak ada yang menafikan kalau ada tambahan yang lain.

Al-Munawi ra. berkata tentang sabda Nabi saw, “Di dalam surga itu ada seratus derajat”. Hadits tersebut tidak bertentangan dengan hadits yang menunjukkan bahwa tingkatan surga itu lebih dari seratus, sebagaimana yang tertera dalam hadits tentang shahibul Qur’an.

Begitu juga bisa dikumpulkan antara hadits Abu Hurairah dan hadits Abu Musa Al-Asy’ari. Yaitu bisa jadi hadits tentang 100 tingkatan khusus menyebutkan derajat para mujahidin saja, dan itu diperkuat dengan hadits lain dari Abu Hurairah.

Diriwayatkan dari Abu Hurairah bahwa Nabi bersabda, ‘Barang siapa beriman kepada Allah dan kepada Rasul-Nya, mendirikan shalat dan berpuasa Ramadhan, maka adalah sudah menjadi haknya yang menjadi kewajiban bagi Allah untuk memasukkannya ke dalam surga, apakah ia berjihad di jalan Allah atau duduk di bumi tempat ia dilahirkan."
Para sahabat bertanya, 'Ya Rasulullah, apa tidak sebaiknya kami memberikan kabar gembira kepada orang-orang?' Beliau kemudian bersabda:

"Sesungguhnya di surga terdapat 100 TINGKATAN (derajat) yang Allah siapkan UNTUK para mujahidin di jalan Allah. Jarak antara 2 derajat seperti jarak antara langit dan bumi ...." (Hadits diriwayatkan oleh Imam Ahmad, Bukhari, dan Tirmidzi)

Adapun jumlah ayat Al-Quran itu lebih dari 6.000 ayat (tepatnya 6.236 ayat). Demikian pula, telah disebutkan di sebagian doa dan dzikir bahwa Allah akan mengganjar orang yang membacanya dengan beratus-ratus dan beribu-ribu pahala pada setiap kali bacaan. Maka, tampaklah bahwa jumlah tingkatan surga itu BANYAK SEKALI hingga mencapai berjuta-juta tingkatan (derajat).” Wallahua’lam.

Nabi bersabda:
“Siapa yang masuk pasar lalu membaca doa: (Laa ilaaha illalaahu, wahdahu laa syariikalahu, lahul mulku wa lahul hamdu, yuhyii wa yumiitu wahuwa hayyun laa yamuutu, biyadihil khairu wahuwa ‘alaa kulli syai’in qadiir) ‘Tiada Ilah yang berhak disembah selain Allah semata, Tiada sekutu bagi-Nya, bagi-Nya kerajaan dan bagi-Nya segala puji, Dia-lah yang menghidupkan dan mematikan dan Dia Mahahidup dan tidak pernah mati, Di Tangan-Nya kebaikan dan Dia Mahakuasa atas segala sesuatu.’ Maka Allah akan menulis baginya sejuta kebaikan, dan menghapus darinya sejuta kejelekan, serta MENGANGKATNYA HINGGA SEJUTA TINGKATAN.” (H.R. At-Tirmidzi, dan dihasankan Al-Albani dalam Shahih Al-Jami’)
Karena tidak ada seorang pun yang tahu tepatnya jumlah tingkatan dan tinggi surga kecuali hanya Allah.

(dirangkum dari buku Al-Istitsmaar Al-Amtsal wa 'Awaa'iduhu yang telah diterjemahkan ke dalam buku RUMUS MASUK SURGA - Cara Cerdas Memilih Amal Untuk Hasil Optimal, hlm.172-174, 177, & 179, dengan tambahan dari buku “MEMESAN KURSI TERTINGGI DI SURGA”, judul asli: Kaifa Tarfa'u Darojataka fi 'l-Jannah, dan referensi tambahan lainnya)
-------------------------------------------------

Penjelasan lanjutan:

Untuk lebih memahaminya agar dikaitkan dengan analisa ke-10 tulisan “ GAMBARAN & ANALISA ALAM SEMESTA (TINGKAT LANJUT)”.

“... Sekiranya dunia seisinya ini diletakkan di atas kunci (gembok) pintu surga itu, maka seperti seekor burung atau sebutir telur di PUNCAK GUNUNG ....” (Hadist dalam Misykaatul Anwaar)

Jika jarak dua tingkatan yang jaraknya sejauh langit dan bumi (dunia) hanyalah diibaratkan seperti sebutir telur dengan gunung, maka dibutuhkan berapa banyak butir telur untuk memenuhi gunung tersebut? Dan jika alam semesta adalah seperti ‘satu titik’ dalam kerajaan-Nya, maka dibutuhkan berapa ‘titik’ untuk memenuhi surga-Nya? Maka telah jelas dengan SEYAKIN-YAKINNYA bahwa tingkatan surga amatlah banyak.

Bahwa yang diketahui pada umumnya adalah ada 8 surga (‘Adn, Ma’wa, Firdaus, Na’im, dll), sehingga pandangannya pun sempit dan berpikiran 8 surga itulah tingkatan surga. PADAHAL, 8 surga itu BUKANLAH tingkatan surga, tetapi merupakan “nama lain surga”, itu pun diketahui jumlahnya lebih dari delapan* (red).

*Dalam buku “SMS DARI SURGA - Kabar Gembira Untuk Calon Penghuni Surga” disebutkan beberapa nama surga, misalnya: Daarus Salaam (negeri penuh keselamatan; Q.S. 6:127, 10:25), Daarul Khuldi (negeri abadi; Q.S. 50:34), Jannatul Khuldi (surga abadi; Q.S. 25:15), Daarul Muqamah (negeri tempat kediaman; Q.S. 35:35), Jannatul Ma'waa (surga tempat tinggal; Q.S. 32:19), Jannatul 'Adn (surga tempat tinggal yang abadi; Q.S. 13:23-24, 61:12), Firdaus (taman/ kebun; Q.S. 23:11), Jannatun Na'iim (surga penuh kenikmatan; Q.S. 56:12), Al Maqaamul Amiin (tempat yang aman; Q.S. 44:51), dan masih banyak lagi nama lainnya seperti Maq'ad Sidq (tempat yang disenangi; Q.S. 54:55), Raudhaatul Jannaah (taman surga; Q.S. 42:22), Raudhah (taman; Q.S. 30:15), Mudkhalan Kariiman (tempat yang mulia; Q.S. 4:31), Husnul Ma'aab (tempat kembali yang baik; Q.S. 3:14), Daarul Aakhirah (negeri akhirat; Q.S. 2:94), Jannatun 'Aaliyatun (surga yang tinggi; Q.S. 69:22), Al Ghurufaatu (tempat-tempat yang tinggi; Q.S. 34:37).

Ada pula riwayat yang menyatakan bahwa itu adalah “macam surga”. Yaitu perbedaan bahan/komposisi pembangunan surga nan agung. Sedangkan Imam Qurthubi berpendapat bahwa nama-nama tersebut bukan untuk membedakan satu surga dengan surga yang lain, tapi hanyalah sebatas sifatnya saja”. Tetapi, yang pasti adalah bahwa telah disebutkan dalam hadits-hadits shahih bahwa tingkatan surga itu SANGAT BANYAK. Bahkan mencapai ‘TAK TERHITUNG’.

“(Kedudukan) mereka itu bertingkat-tingkat di sisi Allah” (Q.S. Ali Imran: 163)

“Dan setiap orang memperoleh tingkatan sesuai dengan apa yang yang telah mereka kerjakan” (Q.S. Al-Ahqaaf: 19)

“Seandainya neraka tidak mencicipi kita dan kita langsung masuk surga pun, Seberapa PENYESALAN kita (atas amal- amalan sunnah yang telah ditinggalkan) jika hanya menjadi penghuni surga tingkatan (ter)bawah???”


semoga ini bisa menjadi renungan untuk kita semua dan bergegas untuk berlomba-lomba dalam kebaikan :)

Tulisan terkait: